BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Partisipan pada Penelitian
Pada penelitian yang peneliti
kerjakan ini, dari ketentuan g power
yang mengharuskan bahwa jumlah sampel pada penelitian ini harus mencapai 138
partisipan, maka pada penelitian ini, peneliti mengikutsertakan 139 partisipan
untuk menjadi sampel penelitian, dibawah ini ialah gambaran dari partisipan
pada penelitian ini :
Tabel 4.1. Tabel Data
Deskriptif Partisipan
Gambaran
Umum Partisipan (N=139)
|
No |
Gambaran
Umum Partisipan |
Frekuensi |
Presentase
(%) |
|
1 |
Jenis
Kelamin : |
|
|
|
|
Laki-Laki |
94 |
67.625% |
|
|
Perempuan |
45 |
32.374% |
|
|
|
|
|
|
2 |
Tingkat
Pendidikan Terakhir : |
|
|
|
|
Tidak
Pernah Sekolah |
0 |
0% |
|
|
SD |
5 |
3.597% |
|
|
SMP |
12 |
8.633% |
|
|
SMA |
77 |
55.395% |
|
|
D3
/ S1 |
39 |
28.057% |
|
|
S2
/ S3 |
6 |
4.316% |
|
|
|
|
|
|
3 |
Rentang
Usia : |
|
|
|
|
18-24 |
20 |
14.388% |
|
|
25-30 |
18 |
12.949% |
|
|
31-36 |
14 |
10.071% |
|
|
37-42 |
26 |
18.705% |
|
|
43-48 |
26 |
18.705% |
|
|
49-54 |
22 |
15.827% |
|
|
55-60 |
4 |
2.877% |
|
|
lebih
dari 60 |
8 |
5.755% |
|
|
|
|
|
|
4 |
Intensitas
Datang ke Pengajian Majelis Taklim : |
|
|
|
|
2
kali atau lebih setiap minggu |
48 |
34.532% |
|
|
1
kali setiap minggu |
67 |
48.201% |
|
|
2
sampai 3 kali setiap bulan |
13 |
9.352% |
|
|
1
kali setiap bulan |
11 |
7.913% |
|
|
|
|
|
|
5 |
Alasan
Pertama Kali Ikut Majelis Taklim : |
|
|
|
|
Karena
diajak orang lain |
7 |
5.035% |
|
|
Ingin
menambah wawasan keilmuan tentang keagamaan |
115 |
82.733% |
|
|
Ingin
bertemu dan mengenal banyak orang sholeh |
7 |
5.035% |
|
|
Untuk
mengisi waktu kosong |
3 |
2.158% |
|
|
Mencari
ketenangan hati |
5 |
3.597% |
|
|
Diajarkan
orang tua sejak kecil |
1 |
0.179% |
|
|
pembersihan
diri dari sifat-sifat tercela dan menggantinya dengan sifat-sifat terpuji |
1 |
0.179% |
Pada
tabel 4.1., diketahui terdapat 139 sampel pada penelitian ini. Terdiri atas 94
partisipan berjenis kelamin laki-laki (67.62%). Serta 48 partisipan berjenis
kelamin perempuan (32.37%).
Untuk gambaran berdasarkan tingkat
pendidikan terakhir, pada penelitian ini terdapat 5 orang yang tingkat
pendidikan terakhirnya adalah SD (3.59%), 12 orang yang tingkat pendidikan
terakhirnya adalah SMP (8.63%), 77 orang yang tingkat pendidikan terakhirnya
adalah SMA (55.39%), 39 orang yang tingkat pendidikan terakhirnya adalah D3/S1
(28.06%). 6 orang yang pendidikan terakhirnya adalah S2/S3 (4.32%)
Untuk gambaran berdasarkan usia, pada
penelitian ini terdapat 20 orang berusia antara 18-24 tahun (14.39%), 18 orang
berusia rentang 25-30 tahun (12.95%), 14 orang berusia rentang 31-36 tahun
(10.07%), 26 orang berusia rentang 37-42 tahun (18.70%), 26 orang berusia
rentang 43-48 tahun (18.70%), 22 orang berusia rentang 49-54 tahun (5.04%), 4
orang berusia rentang 55-60 tahun (2.88%), 8 orang berusia lebih dari 60 tahun
(5.75%)
Untuk gambaran berdasarkan intensitas
datang ke Pengajian Majelis Taklim, pada penelitian ini terdapat 48 partisipan
yang mengikuti Pengajian Majelis Taklim dalam rentang 2 kali atau lebih setiap
minggu (34.53%), terdapat 67 partisipan yang mengikuti Pengajian Majelis Taklim
dalam rentang 1 kali setiap minggu (48.2%), terdapat 13 partisipan yang
mengikuti Pengajian Majelis Taklim dalam rentang 2 sampai 3 kali setiap bulan
(9.35%), terdapat 11 partisipan yang mengikuti Pengajian Majelis Taklim dalam
rentang 1 kali setiap bulan (7.91%).
Untuk gambaran berdasarkan alasan pertama
kali ikut Pengajian Majelis Taklim, pada penelitian ini terdapat 7 partisipan
yang pertama kali mengikuti Pengajian Majelis Taklim dengan alasan karena
diajak orang lain (5.03%), 115 partisipan
yang pertama kali mengikuti Pengajian Majelis Taklim dengan alasan
karena Ingin menambah wawasan keilmuan tentang keagamaan (82.73%), 7 partisipan
yang pertama kali mengikuti Pengajian Majelis Taklim dengan alasan karena ingin
bertemu dan mengenal banyak orang sholeh (5.03%), 3 partisipan yang pertama
kali mengikuti Pengajian Majelis Taklim dengan alasan untuk mengisi waktu
kosong (2.16%), 5 partisipan yang pertama kali mengikuti Pengajian Majelis
Taklim dengan alasan untuk mencari ketenangan hati (3.6%), 1 partisipan yang
pertama kali mengikuti pengajian Majelis Taklim dengan alasan sudah diajarkan
orang tua sejak kecil (0.18%), 1 partisipan yang pertama kali mengikuti Pengajian
Majelis Taklim dengan alasan pembersihan diri dari sifat-sifat tercela dan
menggantinya dengan sifat-sifat terpuji (0.18%).
4.2. Data Deskriptif Alat Ukur Religiusitas dan Kebersyukuran
Data deskriptif untuk alat ukur pada
penelitian ini peneliti menggunakan dua alat ukur, yaitu alat ukur Religiusitas
dan alat ukur Kebersyukuran. alat ukur Religiusitas terdiri atas 34 item
pernyataan, sedangkan untuk alat ukur Kebersyukuran terdiri atas 11 item
pernyataan, untuk penormaan alat ukur, peneliti disini menggunakan skala likert dengan skala 1-4 (Sangat Tidak
Setuju, Tidak Setuju, Setuju, Sangat Setuju). Penelitian ini mempunyai jumlah
sampel sebesar 139 partisipan.
Tabel
4.2. Tabel Data Deskriptif Variabel Religiusitas
dan Kebersyukuran
|
|
|
Religiusitas |
Kebersyukuran |
|
N |
Valid |
139 |
139 |
|
|
Hilang |
0 |
0 |
|
Mean |
|
120.662 |
36.46 |
|
Median |
|
121 |
36 |
|
Mode |
|
118 |
36 |
|
Std. Deviation |
|
8.74 |
3.126 |
|
Minimum |
|
99 |
28 |
|
Maximum |
|
136 |
44 |
Pada
tabel 4.2. diketahui jika alat ukur Religiusitas yang mempunyai jumlah item
sebanyak 34 item mempunyai skor maskimum sebesar 136 dan skor minimum sebesar
99, nilai mean sejumlah 120.662 dan simpangan baku sejumlah 8.74. Sementara
untuk alat ukur Kebersyukuran mempunyai jumlah item sebanyak 11 item mempunyai
skor maksimum sebesar 44 dan skor minimum sebesar 32, nilai mean sejumlah
37.67, dan simpangan baku sejumlah 3.126.
4.2.1. Deskripsi Religiusitas
Tabel 4.3. Tabel Deskripsi Statistik Dimensi
Religiusitas
Dibawah
ini merupakan deskripsi statistik dari Dimensi Religiusitas
|
Dimensi |
N |
Nilai
Minimum |
Nilai
Maksimum |
Rata-Rata |
Standar
Deviasi |
|
Intellectual |
139 |
15 |
28 |
23.0647 |
2.80581 |
|
Ideology[u1] |
139 |
26 |
36 |
34.6906 |
2.44608 |
|
Public Practice |
139 |
17 |
28 |
23.5899 |
2.83051 |
|
Private Practice |
139 |
17 |
24 |
21.4173 |
1.98509 |
|
Religious Experience |
139 |
13 |
20 |
17.8993 |
1.88931 |
Pada
tabel 4.3. diketahui gambaran statistik dari setiap dimensi dari variabel Religiusitas,
nilai rata-rata tertinggi terdapat pada Ideology
Dimension (M=34.6906 dan SD=2.44608). Dan nilai rata-rata terendah terdapat
pada Religious Experience Dimension
(M=17.8993 dan SD=1.88931).
Dari
hasil diskusi peneliti dengan salah satu pembina Majelis Taklim terkait
penyebab mengapa dimensi ideologi ini menjadi dimensi yang mempunyai nilai
rata-rata tertinggi dari Religiuisitas, sumber tersebut mengatakan :
“Dimensi Ideologi merupakan unsur
dasar dan utama dalam agama Islam, Inti dimensi ini dalam ajaran Islam adalah
Tauhid atau mengesakan dan ketaqwaaan kepada Allah. Agama Islam menyeru manusia
agar beriman dan bertaqwa serta mentaati setiap aturan syariat yg telah
ditetapkan. Sehingga Dimensi ini berisi pengharapan-pengharapan dimana orang
religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui
kebenaran doktrin-doktrin tersebut. Hal ini yang menjadikan mengapa dimensi
ideologi adalah hal tertinggi dalam pengukuran Religiusitas.”
Tabel 4.4. Tabel Frekuensi
Kategorisasi Religiusitas
|
|
Pedoman |
Skor |
Kategori |
Frekuensi |
Presentase |
|
Religiusitas |
X
< M – 1SD |
X
< 68 |
Rendah |
0 |
0
% |
|
M
– 1SD < X < M + 1SD |
68
≤ X < 102 |
Sedang |
4 |
2.9
% |
|
|
M
+ 1SD < X |
102
≤ X |
Tinggi |
135 |
97.1
% |
|
|
|
|
|
Total |
139 |
100
% |
Pada
tabel 4.4. diketahui jika partisipan yang mempunyai skor tinggi dalam Religiusitas adalah sebanyak 134 partisipan (96.4%),
sementara yang mempunyai skor sedang adalah sebanyak 4 partisipan (3.6%), dan
tidak ada partisipan yang masuk dalam kategori rendah.
4.2.2. Deskripsi Kebersyukuran
Dibawah
ini merupakan deskripsi statistik dari Dimensi Kebersyukuran
Tabel 4.5. Tabel Deskripsi Statistik Aspek
Kebersyukuran
|
Aspek |
N |
Nilai
Minimum |
Nilai
Maksimum |
Rata-Rata |
Standar
Deviasi |
|
Intensity[u2] |
139 |
4 |
12 |
10.4604 |
1.32570 |
|
Frequency |
139 |
3 |
8 |
5.9712 |
0.90042 |
|
Span |
139 |
6 |
12 |
9.9209 |
1.26871 |
|
Density |
139 |
5 |
12 |
10.1079 |
1.45309 |
Pada tabel 4.5. diketahui gambaran
statistik dari setiap dimensi dari alat ukur
Kebersyukuran, nilai rata-rata tertinggi terdapat pada Intensity Aspect (M=10.4604 dan
SD=1.32570). Dan nilai rata-rata terendah terdapat pada Frequency Aspect (M=5.9712 dan
SD=0.90042).
Alasan kenapa Intensity Aspect bisa memiliki nilai rata-rata tertinggi
dibandingkan aspek-aspek Kebersyukuran lainnya adalah karena dalam agama Islam,
terutama dalam Majelis Taklim selalu ditekankan kepada hambanya untuk selalu
bersyukur apapun kondisinya. Mengacu dari QS. Ibrahim (Nabi Ibrahim) – surah 14
ayat 7 [QS. 14:7], dimana Allah memerintahkan kepada hambanya untuk selalu
bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya,
sebaliknya, Allah SWT akan menghukum hambanya jika hambanya tersebut
mengingkari segala nikmat dan karunia yang telah diberikan Allah SWT kepadanya.
Dalam Pengajian Majelis Taklim para jamaahnya akan senantiasa diingatkan oleh
para ustadz untuk selalu bersyukur apapun kondisinya. Sehingga menurut peneliti
hal itulah yang membuat para jamaah Majelis Taklim mempunyai nilai rata-rata
tertinggi pada Intensity Aspect dalam
Kebersyukuran.
Tabel 4.6. Tabel Frekuensi
Kategorisasi Kebersyukuran
|
|
Pedoman |
Skor |
Kategori |
Frekuensi |
Presentase |
|
Kebersyukuran |
X
< M – 1SD |
X
< 22 |
Rendah |
0 |
0
% |
|
M
– 1SD < X < M + 1SD |
22
≤ X < 33 |
Sedang |
12 |
8.6
% |
|
|
M
+ 1SD < X |
33
≤ X |
Tinggi |
127 |
91.4
% |
|
|
|
|
|
Total |
139 |
100
% |
Pada tabel 4.6. diketahui
jika partisipan yang mempunyai skor tinggi dalam Kebersyukurannya adalah sebanyak 127 partisipan (91.4%),
sementara yang mempunyai skor sedang adalah sebanyak 4 partisipan (8.6%), dan
tidak ada partisipan yang masuk dalam kategori rendah.
4.3. Hasil Uji Normalitas
Tabel 4.7. Tabel Uji Normalitas
Teknik Kolmogorov-Smirnov
|
|
Unstandardized Residual |
|
Asymp. Sig. (2-tailed) |
0.200 |
Disini peneliti menggunakan teknik kolmogorov-smirov untuk uji normalitas
dalam penelitian ini. Data yang mempunyai distribusi normal ialah data yang
mempunyai nilai signifikansi di atas 0.05, sebaliknya, data yang tidak
terdistribusi normal ialah data yang mempunyai nilai signifikansi di bawah
0.05. Uji normalitas pada penelitian ini mempunyai nilai signifikansi sebesar
0.200, sehingga data-data pada penelitian ini menandakan sudah terdistribusi
normal.
4.4. Hasil Uji Hipotesis
Setelah
diketahui bahwa data terdistribusi normal, maka selanjutnya peneliti melakukan
uji hipotesis. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik uji korelasi pearson
product moment. uji korelasi pearson product moment ini biasa
digunakan untuk dapat mengetahui tingkat keeratan korelasi antara 2 variabel
yang mempunyai skala interval ataupun rasio.
Jika
pada penelitian ini didapatkan hasil nilai signifikansi p > 0,05, maka Ha
diterima, yang berarti terdapat hubungan signifikan antara Religiusitas dengan Kebersyukuran.
Sebaliknya, jika didapatkan hasil nilai signifikansi p < 0,05, maka Ha
ditolak, yang berarti tidak terdapat hubungan signifikan antara Religiusitas
dengan Kebersyukuran.
|
|
|
Religiusitas |
Kebersyukuran |
|
Religiusitas |
Pearson Correlation |
1 |
.532** |
|
|
Sig. (2-tailed) |
|
.000 |
|
|
N |
139 |
139 |
|
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). |
|
||
Tabel 4.8. Tabel Uji
Korelasi Pearson Correlation
Pada penelitian ini diketahui bahwa hasil nilai signifikansi
dengan menggunakan teknik pearson
correlation berada di level signifikansi 0.000. Maka dikarenakan 0.000 <
0.05, maka Ha diterima, dan diketahui ada korelasi positif yang signifikan pada
variabel Religiusitas dengan variabel Kebersyukuran senilai 0.532 atau 53.2 %.
Dengan nilai pearson correlation 0.532,
maka diketahui hubungan antara variabel Religiusitas dengan variabel Kebersyukuran
masuk dalam kategori sedang.
4.5. Matriks Korelasi
Selanjutnya disini peneliti
melakukan uji korelasi pada dimensi Religiusitas dengan Kebersyukuran. Uji
korelasi pada aspek Religiusitas dengan Kebersyukuran. Juga hubungan pada
setiap dimensi Religiusitas dengan setiap dimensi dari Kebersyukuran pada para
jamaah Pengajian Majelis Taklim.
4.5.1. Hubungan Setiap Dimensi Religiusitas dengan Kebersyukuran
Tabel 4.9. Tabel Hubungan Setiap
Dimensi Religiusitas dengan Kebersyukuran pada Jamaah Pengajian Majelis Taklim
|
Variabel |
(r) hitung |
Sig. |
Keterangan |
|
|
|
|
|
|
Intellectual Dimension |
0.427 |
0.000 |
Ada Korelasi |
|
|
|
|
|
|
Ideology Dimension |
0.324 |
0.000 |
Ada Korelasi |
|
|
|
|
|
|
Public Practice Dimension |
0.469 |
0.000 |
Ada Korelasi |
|
|
|
|
|
|
Private Practice Dimension |
0.313 |
0.000 |
Ada Korelasi |
|
|
|
|
|
|
Religious Experience Dimension |
0.374 |
0.000 |
Ada Korelasi |
Pada tabel 4.9. Untuk Dimensi Religiusitas yang
mempunyai korelasi paling tinggi dengan variabel Kebersyukuran adalah Public Practice Dimension. Yang menjadi
indikator bahwa semakin tinggi derajat kegiatan-kegiatan ritual keagamaan
ataupun pelayanan agama yang dilakukan oleh individu, maka semakin tinggi juga
secara keseluruhan tingkat Kebersyukuran dari individu tersebut.
Untuk korelasi pada Public Practice Dimension dengan variabel Kebersyukuran, karena
nilai sig. Public Practice Dimension
0.000 < 0.05, maka terdapat hubungan yang signifikan antara Public Practice Dimension dengan Kebersyukuran
pada level signifikansi 1%. Selanjutnya dengan nilai pearson correlation 0.469, maka diketahui hubungan antara Public Practice Dimension dengan
variabel Kebersyukuran masuk dalam kategori sedang. Hal tersebut sesuai dengan
konteks penelitian ini, dimana populasi pada penelitian ini adalah para jamaah Pengajian
Majelis Taklim. Sudah tentu para jamaah Majelis Taklim rutin mengikuti Pengajian
Majelis Taklim yang kegiatannya selalu dilakukan secara bersama-sama. Para
jamaah Majelis Taklim, terutama pria, juga akan berusaha menjaga sholat lima
waktu berjamaah di Masjid, karena hal tersebut merupakan sunnah yang disabdakan
oleh Rasulullah SAW agar diprioritaskan oleh para umat Muslim (Yansyah, 2020).
Untuk Dimensi Religiusitas yang mempunyai
korelasi paling rendah dengan variabel Kebersyukuran adalah Private Practice Dimension. Untuk
korelasi pada Private Practice Dimension
dengan variabel Kebersyukuran, karena nilai sig. Public Practice Dimension 0.000 < 0.05, maka terdapat hubungan
yang signifikan antara Private Practice Dimension
dengan Kebersyukuran pada level signifikansi 1%. Selanjutnya dengan nilai
pearson correlation 0.313, maka diketahui hubungan antara Private Practice Dimension dengan variabel Kebersyukuran masuk
dalam kategori lemah. Meskipun menjadi dimensi yang terlemah dalam hal korelasi
pada variabel Religiusitas dalam hubungannya dengan variabel Kebersyukuran,
tetap diketahui bahwa ada hubungan
antara semakin tinggi derajat pengabdian hidup untuk kegiatan agama yang
dilakukan secara sendirian pada individu, maka semakin tinggi juga tingkat Kebersyukuran
dari individu tersebut.
Kesimpulannya, hasil pengolahan data di
atas memperlihatkan bahwa hubungan antara setiap dimensi dari Religiusitas
dengan Kebersyukuran menunjukan korelasi positif. Dimensi dari Religiusitas
yang mempunyai korelasi positif paling tinggi adalah Public Practice Dimension dengan nilai pearson correlation sejumlah 0.469, sementara dimensi dari Religiusitas
yang mempunyai korelasi positif paling rendah adalah Private Practice Dimension dengan nilai pearson correlation sejumlah 0.313.
4.5.2. Hubungan[PP3]
Setiap Aspek Kebersyukuran dengan Religiusitas
Tabel 4.10. Tabel Hubungan Setiap Aspek
Kebersyukuran dengan Religiusitas pada Jamaah Pengajian Majelis Taklim
|
Variabel |
(r) hitung |
Sig. |
Keterangan |
|
|
|
|
|
|
Intensity Aspect |
0.429 |
0.000 |
Ada Korelasi |
|
|
|
|
|
|
Frequency Aspect |
0.047 |
0.586 |
Tidak Ada
Korelasi |
|
|
|
|
|
|
Span Aspect |
0.307 |
0.000 |
Ada Korelasi |
|
|
|
|
|
|
Density Aspect |
0.455 |
0.000 |
Ada Korelasi |
Pada
tabel 4.10. Untuk Aspek Kebersyukuran yang mempunyai korelasi paling tinggi
dengan variabel Religiusitas adalah Density
Aspect. Yang menjadi indikator bahwa semakin banyak individu tersebut
merasakan emosi bersyukur atas banyak peran positif orang lain yang telah
banyak membantu individu tersebut dalam kehidupannya, maka semakin tinggi juga
secara keseluruhan tingkat Religiusitas dari individu tersebut. Hasil korelasi
matriks tersebut sesuai dengan konteks penelitian ini dan juga dengan hasil
korelasi matriks sebelumnya, dimana Public
Practice Dimension mempunyai nilai korelasi paling tinggi dengan variabel Kebersyukuran.
Untuk korelasi pada Density Aspect
dengan variabel Religuisitas, karena nilai sig. Density Aspect 0.000 < 0.05,
maka terdapat hubungan yang signifikan antara Density Aspect dengan Religiusitas pada level signifikansi 1%.
Selanjutnya dengan nilai pearson
correlation 0.455, maka diketahui hubungan antara Density Aspect dengan variabel Religuisitas masuk dalam kategori
sedang.
Sementara ada salah satu aspek dari Kebersyukuran
yang sama sekali tidak mempunyai korelasi dan tidak bersignifikansi dengan
variabel Religuisitas, yaitu Frequency Aspect.
Untuk uji korelasi pada Frequency Aspect
dengan variabel Religiusitas, karena nilai sig. Frequency Aspect 0.586 < 0.05, maka tidak terdapat hubungan yang
signifikan antara Frequency Aspect
dengan variabel Religiusitas.
4.5.2. Hubungan Setiap Dimensi Religiusitas
dengan Setiap Dimensi Kebersyukuran
Tabel 4.11. Tabel Hubungan Setiap Dimensi Religiusitas
dengan Setiap Dimensi Kebersyukuran pada Jamaah Pengajian Majelis Taklim
|
Religiusitas |
Kebersyukuran |
|||||||
|
Intensity |
Frequency |
Span |
Density |
|||||
|
(r) hitung |
sig. |
(r) hitung |
sig. |
(r) hitung |
sig. |
(r) hitung |
sig. |
|
|
Intellectual |
0.333 |
0 |
0.024 |
0.782 |
0.211 |
0.013 |
0.416 |
0 |
|
Ideology |
0.364** |
0 |
0.164 |
0.054 |
0.153* |
0.072 |
0.13* |
0.128 |
|
Public Practice |
0.306 |
0 |
0.066 |
0.437 |
0.245 |
0.004 |
0.476** |
0 |
|
Private Practice |
0.213* |
0.012 |
0.054 |
0.527 |
0.238 |
0.005 |
0.306 |
0 |
|
Religious Experience |
0.34 |
0 |
0.074 |
0.386 |
0.29** |
0.001 |
0.286 |
0.001 |
Pada tabel 4.10. Untuk Intensity Aspect dari Kebersyukuran,
yang mempunyai korelasi paling tinggi antara Intensity Aspect dengan dimensi dari Religiusitas adalah Ideology Dimension. Yang mempunyai nilai
signfikansi 0.000 < 0.05 dan nilai pearson
correlation sebesar 0.364. Sementara untuk yang mempunyai korelasi paling
rendah antara Intensity Aspect dengan
dimensi dari Religiusitas adalah Private
Practice Dimension. Yang mempunyai nilai signifikansi 0.012 < 0.05 dan
nilai pearson correlation sebesar
0.213.
Selanjutnya untuk Frequency Aspect dari Kebersyukuran, aspek tersebut tidak mempunyai
korelasi serta tidak mempunyai signifikansi dengan satupun variabel dari Religiusitas.
Dimana hubungannya dengan Intellectual Dimension mempunyai nilai
signifikansi 0.782 > 0.05, untuk hubungannya dengan Ideology Dimension mempunyai nilai signifikansi 0.054 > 0.05,
untuk hubungannya dengan Public Practice Dimension
mempunyai nilai signifikansi 0.437 >
0.05, untuk hubungannya dengan Private
Practice Dimension mempunyai nilai signifikansi 0.527 > 0.05, dan
terakhir untuk hubungannya dengan Private
Practice Dimension mempunyai nilai signifikansi 0.386 > 0.05.
Untuk Span
Aspect dari Kebersyukuran, yang mempunyai korelasi paling tinggi antara Span Aspect dengan dimensi dari Religiusitas
adalah Religious Experience Dimension.
Yang mempunyai nilai signfikansi 0.001 < 0.05 dan nilai pearson correlation sebesar 0.29. Sementara untuk dimensi dari Religiusitas
yang sama sekali tidak mempunyai korelasi dan tidak bersignifikansi dengan Span
Aspect dari Kebersyukuran ialah Ideology
Dimension dengan nilai signifikansi 0.072 > 0.05.
Untuk Density
Aspect dari Kebersyukuran, yang mempunyai korelasi paling tinggi antara Density Aspect dengan dimensi dari Religiusitas
adalah Public Practice Dimension.
Yang mempunyai nilai signfikansi 0.000 < 0.05 dan nilai pearson correlation sebesar 0.476. Sehingga juga menjadi korelasi
yang tertinggi jika dibandingkan dengan korelasi-korelasi pada setiap dimensi
lainnya. Selanjutnya untuk dimensi dari Religiusitas yang sama sekali tidak
mempunyai korelasi dan tidak bersignifikansi dengan Density Aspect dari Kebersyukuran ialah Ideology Dimension dengan nilai signifikansi 0.128 < 0.05.
4.6. Pembahasan
Penelitian ini mempunyai tujuan untuk
mengetahui apakah ada hubungannya
antara Religiusitas dengan Kebersyukuran
pada jamaah Pengajian Majelis Taklim. Majelis Taklim yang menjadi populasi pada
penelitian ini adalah Majelis Taklim Ustadz Kembar yang mempunyai jamaah sejumlah
kurang lebih 152 jamaah dewasa.
Dari[PP4]
hasil uji hipotesa diketahui bahwa terdapat hubungan antara Religiusitas dengan
Kebersyukuran pada jamaah Pengajian Majelis Taklim, penelitian ini mempunyai
nilai korelasi pearson correlation
sebesar 0.532 dengan nilai signifikansi senilai 0.000, sehingga tingkat
korelasinya masuk dalam kategori sedang. Sehingga
dapat diinterpretasikan bahwa individu yang mempunyai pengetahuan agama yang
luas terkait dengan agama Islam mempunyai ketertarikan yang kuat atas
pengetahuan agamanya untuk menambah khazanah ilmu pengetahuannya, sehingga
individu tersebut dapat mengaplikasikan ilmu agama yang didapatkannya dari
berbagai sumber dalam kehidupannya sehari-hari.
Dengan
mengikuti Pengajian Majelis Taklim, para individu akan senantiasa diingatkan
agar selalu bersyukur kepada Allah SWT. Mengetahui
bahwa dengan selalu bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan
oleh Allah SWT kepadanya akan semakin menambah hingga berkali-kali lipat nikmat
dan karunia dari Allah SWT bagi dirinya untuk kedepannya. Individu dengan Religiusitas
tinggi juga akan aktif dalam mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan, seperti
mengikuti Pengajian Majelis Taklim, sholat berjamaah lima waktu di masjid, juga
saling tolong-menolong antara sesama umat muslim, dengan seringnya melakukan
aktifitas secara bersama-sama antara sesama umat muslim, individu tersebut akan
menjadi pribadi yang senantiasa selalu merasa bersyukur atas peran positif dari
orang lain dalam kehidupannya, memahami bahwa keberhasilan dirinya juga berasal
dari jasa-jasa kebaikan orang lain. Mengetahui dan memiliki keyakinan kuat
bahwa Allah SWT itu memang benar-benar ada. Individu tersebut akan merasakan
atas kehadiran Allah SWT yang senantiasa berada disisinya dan membimbingnya
dalam setiap aspek kehidupannya. Sehingga individu tersebut akan senantiasa
merasakan perasaan bersyukur dalam sepanjang hidupnya, karena mengetahui sudah
ada Allah SWT yang selalu membimbingnya dan menjaganya selama ini, serta telah
memenuhi segala kebutuhan-kebutuhannya. Meskipun begitu, peneliti mempunyai
asumsi bahwa kondisi pandemi Covid-19 sekarang ini yang menimbulkan banyak
kekhawatiran dan kecemasan dari para individu juga mempunyai dampak signifikan
terhadap hubungan antara tingkat Religiusitas dengan tingkat Kebersyukuran dari
para Jamaah Majelis Taklim, sehingga hasil uji korelasi dari Religiusitas
dengan Kebersyukuran pada penelitian ini hanya pada taraf sedang.
Dalam Kraus dkk. (2015) diketahui bahwa
orang yang religius cenderung lebih bersyukur. Meskipun Kebersyukuran secara
sederhana didefinisikan dalam kamus sebagai '' the state of being grateful '' atau '' thankfullness '' (Merriam-Webster, 2021), Kebersyukuran merupakan
konsep yang jauh lebih kompleks dari pendefinisian tersebut. Kraus dkk. (2015)
mendefinisikan rasa syukur sebagai
reaksi emosional positif terhadap penerimaan manfaat yang telah diberikan
dengan niat baik, baik itu dari orang lain, tuhan, ataupun sumber-sumber
kebaikan lainnya.
Emmons dkk (2005, dalam Kraus dkk. 2015)
menjelaskan bahwa ada kualitas yang sakral antara religuisitas dengan
keterkaitannya pada Kebersyukuran. Ajaran agama dalam Islam menekankan
pentingnya tentang Kebersyukuran dan rasa berterima-kasih. Rasa Kebersyukuran
terhadap tuhan telah menjadi hal yang sangat umum dalam banyak tradisi
keagamaan, yang juga banyak ditemukan dalam kitab-kitab keagamaan. Lebih jauh
lagi, Kebersyukuran merupakan salah satu
emosi yang paling sering ditekankan dalam Agama pada diri para penganutnya.
Hasil dari penelitian yang peneliti
kerjakan ini juga relevan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan
oleh Alfathimy (2020) dan Nikmah (2017), dimana pada penelitian tersebut
diketahui bahwa ada korelasi positif yang signifikan antara Religiusitas dengan
Kebersyukuran, yang berarti semakin tinggi tingkat Religiusitas dari individu,
akan semakin tinggi juga tingkat Kebersyukurannya, begitu juga sebaliknya,
semakin rendah tingkat Religiusitas dari
individu, semakin rendah juga tingkat Kebersyukurannya. Dalam Aghababei dkk.
(2018), juga diketahui bahwa skor tinggi dalam Religiusitas juga erat kaitannya
dengan skor tinggi dalam Kebersyukuran. Kebersyukuran memiliki berbagai manfaat
fisik[PP5] ,
emosional, dan sosial. Penelitian menunjukkan bahwa banyak dimensi-dimensi dari
Religiusitas yang dapat meningkatkan
perasaan bersyukur (Kraus dkk., 2015). Selain itu pula, rasa bersyukur kepada
Tuhan juga dapat berfungsi sebagai mediator efek Religiusitas dalam mengalami Kebersyukuran
(Aghababei dkk., 2018).
Dari kajian-kajian teoritis sebelumnya,
setelah diketahui hasil bahwa individu dengan tingkat Religiusitas yang tinggi
juga akan mempunyai tingkat Kebersyukuran yang tinggi pula, maka individu yang
mempunyai tingkat Religiusitas yang tinggi akan berusaha sepenuh hati dalam
menjalankan ibadah serta meresapi setiap amal ibadah yang diperintahkan oleh
Allah SWT kepadanya untuk dikerjakan sebagai bentuk rasa syukur atas setiap
nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya. Tidak terlepas dari rasa
bersyukur kepada Allah SWT semata, individu tersebut juga akan sering merasa
bersyukur atas setiap hal baik yang diberikan oleh orang lain kepadanya, entah
itu berwujud fisik (misalnya, pemberian hadiah) ataupun berbentuk abstrak
(misalnya, pujian) Semakin individu tersebut memiliki pengetahuan agama yang
luas, maka akan semakin tinggi juga tingkat Kebersyukuran yang dimiliki oleh
individu, dikarenakan individu tersebut mengetahui bahwa salah satu perintah
Allah SWT kepadanya adalah untuk menjadi pribadi yang senantiasa selalu
bersyukur kepada Allah SWT, baik dalam kondisi lapang maupun kondisi sempit.
Dengan semakin sering individu tersebut melakukan ibadah dengan perasaan tulus
ikhlas kepada Allah SWT dengan niat hanya untuk mencari ridhonya semata, serta
tidak memikirkan hal-hal lain yang dapat membuat kondisi emosi pikirannya
menjadi tidak bersyukur atas segala nikmat yang telah diterima individu
tersebut dalam kehidupannya selama ini, maka secara otomatis individu tersebut
akan senantiasa merasakan perasaan Kebersyukuran pada dirinya sepanjang
hidupnya. Kehidupannya akan selalu dipenuhi oleh emosi bersyukur dalam dirinya.
Untuk korelasi tertinggi antara dimensi Religiusitas
dengan Kebersyukuran, yang mempunyai nilai korelasi tertinggi dari dimensi Religiusitas
adalah Public Practice Dimension.
Hubungan antara Public Practice Dimension
dengan Kebersyukuran mempunyai nilai pearson
correlation senilai 0.469 dengan nilai signifikansi 0.000 < 0.05,
sehingga diketahui adanya korelasi positif yang signifikan antara Public Practice Dimension dengan Kebersyukuran.
Yang berarti semakin sering individu mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan yang
dilakukan secara bersama-sama dengan orang lain ataupun masyarakat, seperti
rutin melakukan ibadah sholat lima waktu di masjid ataupun musholah, rutin
mengikuti Pengajian Majelis Taklim, serta kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya
yang dilakukan secara bersama-sama. Maka semakin tinggi pula tingkat Kebersyukuran
yang dimiliki oleh individu tersebut.
Sementara untuk korelasi terendah antara
dimensi Religiusitas dengan Kebersyukuran adalah Private Practice Dimension. Untuk hubungan antara Private Practice Dimension dengan Kebersyukuran
mempunyai nilai pearson correlation senilai 0.313 dengan nilai signifikansi
0.000 < 0.05, sehingga diketahui adanya korelasi positif yang signifikan
antara Private Practice Dimension
dengan Kebersyukuran. Yang berarti semakin individu sering dalam menjalankan
ritual-ritual terkait keagamaan yang dilakukannya secara individual, seperti
sering melakukan sholat tahajud, sering beristighfar kepada Allah SWT, sering
membaca Al-Quran, rutin melakukan sholat dhuha, serta ritual-ritual keagamaan
lainnya yang rutin dilakukannya secara individual dalam rangka mendekatkan
dirinya kepada Allah SWT. Maka semakin tinggi pula tingkat Kebersyukuran yang
dimiliki oleh individu tersebut.
Dari pengkajian diatas, diketahui bahwa
dimensi Religiusitas yang mempunyai korelasi tertinggi dengan Kebersyukuran
adalah Public Practice Dimension,
sehingga dapat disimpulkan bahwa para individu yang rutin mengikuti Pengajian
Majelis Taklim, dengan semakin rutinnya individu aktif mengikuti
kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilakukan secara bersama-sama, seperti sering
melakukan sholat berjamaah di masjid ataupun musholah, rutin dalam mengikuti
pengajian-Pengajian Majelis Taklim yang diselenggarakan, menjaga silaturahmi
sesama umat muslim, serta saling membantu satu sama lain jika ada saudara/saudari-nya
sesama umat muslim yang sedang membutuhkan pertolongan, maka akan semakin
tinggi juga tingkat Kebersyukurannya. Sementara untuk yang mempunyai nilai
korelasi terendah dengan variabel Kebersyukuran adalah Private Practice Dimension, yang dimana hasil tersebut sesuai
dengan asumsi awal peneliti pada penelitian ini. Dimana para jamaah Majelis
Taklim akan lebih mengutamakan kegiatan-kegiatan positif terkait keagamaan yang
dilakukan secara bersama-sama dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan keagamaan
yang bersifat individual.
Untuk korelasi tertinggi antara aspek Kebersyukuran
dengan Religiusitas, yang mempunyai nilai korelasi tertinggi adalah Density Aspect. Hubungan antara Density Aspect dengan Religiusitas
mempunyai nilai pearson correlation
senilai 0.455 dengan nilai signifikansi 0.000 < 0.05. Yang menandakan bahwa
semakin individu merasakan perasaan bersyukur atas bantuan ataupun hal positif
lainnya yang didapatkannya dari orang lain dalam kehidupannya, semakin tinggi
pula tingkat Religiusitasnya, seperti perasaan bersyukurnya karena memiliki
orang-orang baik di sekitarnya, perasaan bersyukur karena merasa kesuksesan
ataupun keberhasilannya saat ini adalah karena bantuan positif orang lain,
seperti dari keluarganya atau sahabatnya. Semakin tinggi perasaan bersyukur
individu tersebut atas jasa-jasa kebaikan orang lain terhadap dirinya, akan
semakin tinggi pula tingkat Religiusitas individu tersebut secara keseluruhan.
Individu tersebut akan semakin tinggi dalam hal terkait keyakinan dan pikiran religiusnya
dalam melihat kehidupan ini, sehingga akan mempunyai pengaruh terhadap cara
pandang dan perilakunya dalam kehidupannya sehari-hari.
Selanjutnya ada salah satu aspek Kebersyukuran
yang tidak mempunyai korelasi dan tidak bersignifikansi dengan variabel Religiusitas,
aspek tersebut adalah Frequency Aspect,
yang mempunyai nilai signifikansi sebesar 0.586 > 0.05. Sehingga menandakan
bahwa tidak ada hubungannya antara seberapa seringnya individu tersebut
merasakan perasaan bersyukur dalam setiap waktu pada setiap harinya, seperti berterima-kasih
setiap waktunya kepada Allah SWT, dengan semakin tinggi tingkat Religiusitasnya.
Hasil temuan ini menjadi menarik karena
peneliti sebelumnya memiliki asumsi awal bahwa semakin tinggi tingkat Religiusitas
dari individu, akan semakin mudah individu tersebut merasa bersyukur dalam
kehidupannya sehari-hari. Bisa jadi para jamaah Majelis Taklim sekarang ini
tidak bisa untuk terus-menerus merasakan perasaan bersyukur dalam kehidupannya
sehari-hari saat ini dikarenakan
Indonesia secara merata sedang mengalami pandemi Covid-19 yang menyebabkan
banyak orang merasakan kecemasan dari semua aspek, seperti mencemaskan terkait
finansialnya, mengkhawatirkan kesehatannya, dan potensi-potensi masalah serta
hal-hal negatif lainnya yang mungkin dapat terjadi pada dirinya ataupun
keluarganya akibat situasi pandemi Covid-19
yang belum ada titik terang untuk saat ini kapan akan berakhirnya. Sehingga
pandemi Covid-19 saat ini mengakibatkan
individu yang aktif mengikuti Pengajian Majelis Taklim sekalipun, yang dalam
penelitian diketahui bahwa mereka mempunyai tingkat Religiusitas tinggi secara
keseluruhan, juga diketahui mempunyai pikiran dan keyakinan religius yang
tinggi dalam kehidupannya sehari-hari, serta memenuhi kewajiban-kewajiban dan
nilai-nilai agamanya, tetap tidak bisa untuk merasakan perasaan bersyukur
terus-menerus setiap waktunya dalam sepanjang harinya.
Selanjutnya untuk hasil korelasi yang
tertinggi antara setiap dimensi Religiusitas dengan setiap aspek dari Kebersyukuran
adalah korelasi antara Public Practice Dimension
dengan Density Aspect. Dengan nilai
signifikansi 0.000 < 0.05 dan hasil uji pearson
correlation senilai 0.476. Public
Practice Dimension menjadi dimensi yang mempunyai tingkat hubungan
tertinggi dengan Density Aspect dari Kebersyukuran.
sehingga disimpulkan bahwa individu yang aktif mengikuti Pengajian Majelis
Taklim, rutin mengikuti sholat berjamaah lima waktu di masjid ataupun musholah,
aktif dalam mengikuti kegiatan-kegiatan terkait keagamaan yang dilakukan secara
bersama-sama. Akan paling berkorelasi positif dengan perasaan bersyukur atas
pertolongan orang lain dalam kehidupannya selama ini yang telah mempunyai
banyak peran positif terhadap dirinya, dibandingkan dengan korelasi lainnya
antara setiap dimensi Religiusitas dengan setiap aspek Kebersyukuran.
Selanjutnya untuk aspek dari Kebersyukuran
yang tidak mempunyai signifikansi sama sekali dengan Religiusitas adalah Frequency Aspect, diketahui hasil nilai pearson correlation pada Intellectual Dimension senilai 0.024
dengan nilai signifikansi 0.782 > 0.05, hasil nilai pearson correlation
pada Ideology Dimension senilai 0.164
dengan nilai signifikansi 0.054 > 0.05, hasil nilai pearson correlation pada Public
Practice Dimension senilai 0.066 dengan nilai signifikansi 0.437 > 0.05,
hasil nilai pearson correlation pada Private Practice Dimension senilai
-0.054 dengan nilai signifikansi 0.527 > 0.05, hasil nilai pearson correlation pada Religious Experience Dimension senilai
-0.074 dengan nilai signifikansi 0.386 > 0.05. Ternyata pada semua dimensi Religiusitas
tersebut, semuanya tidak mempunyai korelasi dan tidak bersignifikansi dengan Frequency Aspect dari kebersyukuran. Yang menandakan bahwa meski seseorang
memiliki tingkat Religiusitas yang tinggi dalam Intellectual Dimension, Ideology
Dimension, Public Practice Dimension,
Private Practice Dimension, dan Religious Experience Dimension.
Dimensi-dimensi Religiusitas tersebut tidak ada keterkaitannya dengan seberapa
sering individu tersebut merasakan perasaan bersyukur yang dialaminya
berkali-kali dalam setiap harinya. Selanjutnya untuk dimensi dari Religiusitas
yang tidak mempunyai signifikansi dengan tiga aspek dari Kebersyukuran adalah Ideology Dimension, untuk korelasinya
dengan Frequency Aspect, Span Aspect, dan Density Aspect. Diketahui
hasil nilai pearson correlation antara Ideology Dimension dengan Frequency Aspect senilai 0.164 dengan
nilai signifikansi 0.054 > 0.05, hasil nilai pearson correlation antara Ideology
Dimension dengan Span Aspect
senilai 0.153 dengan nilai signifikansi 0.072 > 0.05, hasil nilai pearson correlation antara Ideology Dimension dengan Density Aspect senilai 0.13 dengan nilai
signifikansi 0.128 > 0.05.
Peneliti mengasumsikan hal ini bisa
terjadi dikarenakan kondisi pandemi Covid-19
yang masih belum ada kejelasan kapan akan berakhirnya, sehingga tidak peduli
seberapa besar tingkat keyakinan dari individu terhadap Allah SWT, hal tersebut
tidak mempunyai korelasi dengan seberapa sering individu mengalami perasaan
bersyukur pada setiap waktunya dalam setiap harinya, perasaan bersyukur atas
segala nikmat dan karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya dalam
sepanjang hidupnya, serta perasaan bersyukur atas berbagai kebaikan dan hal
positif yang telah diterimanya dari orang lain.
Seluruh dimensi pada Religiusitas, yakni; Intellectual Dimension, Ideology Dimension, Public Practice Dimension, Private
Practice Dimension, dan Religious
Experience Dimension, mempunyai korelasi yang positif dan bersignifikansi
dengan Kebersyukuran. Tetapi jika dalam korelasi pada setiap dimensi Religiusitas
dengan setiap dimensi Kebersyukuran, untuk Ideology
Dimension dari Religiusitas, hanya bersignifikansi & berkorelasi
positif dengan Intensity Aspect dan
tidak mempunyai korelasi dan tidak bersignifikansi dengan Frequency Aspect, Span Aspect,
dan Density Aspect dari Kebersyukuran.
Selanjutnya untuk Frequency Aspect
dari Kebersyukuran, salah satu aspek dari Kebersyukuran tersebut sama sekali
tidak mempunyai korelasi dan tidak bersignifikansi dengan seluruh dimensi dari Religiusitas.
Kesimpulannya,
untuk Individu yang aktif Mengikuti Pengajian Majelis Taklim, jika individu
tersebut mempunyai derajat Religiusitas yang tinggi, maka akan semakin tinggi
pula derajat Kebersyukurannya. Adanya hubungan antara Religiusitas dengan Kebersyukuran
pada para jamaah Pengajian Majelis Taklim menandakan bahwa dengan seiring rutinnya
individu mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan yang dapat memenuhi kebutuhan
rohani dan kebutuhan atas ilmu pengetahuan terkait ajaran agama Islam, yang
sering juga diajarkan bahwa sebagai umat Islam harus sering mensyukuri atas
berbagai nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya. Maka individu
tersebut akan semakin merasakan perasaan bersyukur pada dirinya, bersyukur atas
kehidupannya selama ini, bersyukur atas hal-hal baik yang telah diberikan oleh
orang lain kepadanya, dan bersyukur atas berbagai nikmat karunia yang telah
didapatkannya dari Allah SWT.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
[u1]dijelaskan
kenapa Ideology bisa tertinggi, bisa dari observasi atau wawancara
[u2]dijelaskan
kenapa Kebersyukuran bisa tertinggi, bisa dari observasi atau wawancara
[PP3]Habis
4.5.1 kok 4.5.3?
[PP4]Penelitian
ini bertujuan untuk…
Penelitian ini dilakukan pada Majelis Taklim sebanyak.
Dari hasil uji hipotesa diperoleh…
Hanya skor2 yang ekstrim tinggi/rendah
Komentar
Posting Komentar