BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Partisipan pada Penelitian

            Pada penelitian yang peneliti kerjakan ini, dari ketentuan g power yang mengharuskan bahwa jumlah sampel pada penelitian ini harus mencapai 138 partisipan, maka pada penelitian ini, peneliti mengikutsertakan 139 partisipan untuk menjadi sampel penelitian, dibawah ini ialah gambaran dari partisipan pada penelitian ini :

Tabel 4.1. Tabel Data Deskriptif Partisipan

Gambaran Umum Partisipan (N=139)

No

Gambaran Umum Partisipan

Frekuensi

Presentase (%)

1

Jenis Kelamin :

 

 

 

Laki-Laki

94

67.625%

 

Perempuan

45

32.374%

 

 

 

 

2

Tingkat Pendidikan Terakhir :

 

 

 

Tidak Pernah Sekolah

0

0%

 

SD

5

3.597%

 

SMP

12

8.633%

 

SMA

77

55.395%

 

D3 / S1

39

28.057%

 

S2 / S3

6

4.316%

 

 

 

 

3

Rentang Usia :

 

 

 

18-24

20

14.388%

 

25-30

18

12.949%

 

31-36

14

10.071%

 

37-42

26

18.705%

 

43-48

26

18.705%

 

49-54

22

15.827%

 

55-60

4

2.877%

 

lebih dari 60

8

5.755%

 

 

 

 

4

Intensitas Datang ke Pengajian Majelis Taklim :

 

 

 

2 kali atau lebih setiap minggu

48

34.532%

 

1 kali setiap minggu

67

48.201%

 

2 sampai 3 kali setiap bulan

13

9.352%

 

1 kali setiap bulan

11

7.913%

 

 

 

 

5

Alasan Pertama Kali Ikut Majelis Taklim :

 

 

 

Karena diajak orang lain

7

5.035%

 

Ingin menambah wawasan keilmuan tentang keagamaan

115

82.733%

 

Ingin bertemu dan mengenal banyak orang sholeh

7

5.035%

 

Untuk mengisi waktu kosong

3

2.158%

 

Mencari ketenangan hati

5

3.597%

 

Diajarkan orang tua sejak kecil

1

0.179%

 

pembersihan diri dari sifat-sifat tercela dan menggantinya dengan sifat-sifat terpuji

1

0.179%

 

Pada tabel 4.1., diketahui terdapat 139 sampel pada penelitian ini. Terdiri atas 94 partisipan berjenis kelamin laki-laki (67.62%). Serta 48 partisipan berjenis kelamin perempuan (32.37%).

Untuk gambaran berdasarkan tingkat pendidikan terakhir, pada penelitian ini terdapat 5 orang yang tingkat pendidikan terakhirnya adalah SD (3.59%), 12 orang yang tingkat pendidikan terakhirnya adalah SMP (8.63%), 77 orang yang tingkat pendidikan terakhirnya adalah SMA (55.39%), 39 orang yang tingkat pendidikan terakhirnya adalah D3/S1 (28.06%). 6 orang yang pendidikan terakhirnya adalah S2/S3 (4.32%)

Untuk gambaran berdasarkan usia, pada penelitian ini terdapat 20 orang berusia antara 18-24 tahun (14.39%), 18 orang berusia rentang 25-30 tahun (12.95%), 14 orang berusia rentang 31-36 tahun (10.07%), 26 orang berusia rentang 37-42 tahun (18.70%), 26 orang berusia rentang 43-48 tahun (18.70%), 22 orang berusia rentang 49-54 tahun (5.04%), 4 orang berusia rentang 55-60 tahun (2.88%), 8 orang berusia lebih dari 60 tahun (5.75%)

Untuk gambaran berdasarkan intensitas datang ke Pengajian Majelis Taklim, pada penelitian ini terdapat 48 partisipan yang mengikuti Pengajian Majelis Taklim dalam rentang 2 kali atau lebih setiap minggu (34.53%), terdapat 67 partisipan yang mengikuti Pengajian Majelis Taklim dalam rentang 1 kali setiap minggu (48.2%), terdapat 13 partisipan yang mengikuti Pengajian Majelis Taklim dalam rentang 2 sampai 3 kali setiap bulan (9.35%), terdapat 11 partisipan yang mengikuti Pengajian Majelis Taklim dalam rentang 1 kali setiap bulan (7.91%).

Untuk gambaran berdasarkan alasan pertama kali ikut Pengajian Majelis Taklim, pada penelitian ini terdapat 7 partisipan yang pertama kali mengikuti Pengajian Majelis Taklim dengan alasan karena diajak orang lain (5.03%), 115 partisipan  yang pertama kali mengikuti Pengajian Majelis Taklim dengan alasan karena Ingin menambah wawasan keilmuan tentang keagamaan (82.73%), 7 partisipan yang pertama kali mengikuti Pengajian Majelis Taklim dengan alasan karena ingin bertemu dan mengenal banyak orang sholeh (5.03%), 3 partisipan yang pertama kali mengikuti Pengajian Majelis Taklim dengan alasan untuk mengisi waktu kosong (2.16%), 5 partisipan yang pertama kali mengikuti Pengajian Majelis Taklim dengan alasan untuk mencari ketenangan hati (3.6%), 1 partisipan yang pertama kali mengikuti pengajian Majelis Taklim dengan alasan sudah diajarkan orang tua sejak kecil (0.18%), 1 partisipan yang pertama kali mengikuti Pengajian Majelis Taklim dengan alasan pembersihan diri dari sifat-sifat tercela dan menggantinya dengan sifat-sifat terpuji (0.18%).

4.2. Data Deskriptif Alat Ukur Religiusitas dan Kebersyukuran

            Data deskriptif untuk alat ukur pada penelitian ini peneliti menggunakan dua alat ukur, yaitu alat ukur Religiusitas dan alat ukur Kebersyukuran. alat ukur Religiusitas terdiri atas 34 item pernyataan, sedangkan untuk alat ukur Kebersyukuran terdiri atas 11 item pernyataan, untuk penormaan alat ukur, peneliti disini menggunakan skala likert dengan skala 1-4 (Sangat Tidak Setuju, Tidak Setuju, Setuju, Sangat Setuju). Penelitian ini mempunyai jumlah sampel sebesar 139 partisipan.

Tabel 4.2.  Tabel Data Deskriptif Variabel Religiusitas dan Kebersyukuran

 

 

Religiusitas

Kebersyukuran

N

Valid

139

139

 

Hilang

0

0

Mean

 

120.662

36.46

Median

 

121

36

Mode

 

118

36

Std. Deviation

 

8.74

3.126

Minimum

 

99

28

Maximum

 

136

44

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada tabel 4.2. diketahui jika alat ukur Religiusitas yang mempunyai jumlah item sebanyak 34 item mempunyai skor maskimum sebesar 136 dan skor minimum sebesar 99, nilai mean sejumlah 120.662 dan simpangan baku sejumlah 8.74. Sementara untuk alat ukur Kebersyukuran mempunyai jumlah item sebanyak 11 item mempunyai skor maksimum sebesar 44 dan skor minimum sebesar 32, nilai mean sejumlah 37.67, dan simpangan baku sejumlah 3.126.

4.2.1. Deskripsi Religiusitas

Tabel 4.3. Tabel Deskripsi Statistik Dimensi Religiusitas

Dibawah ini merupakan deskripsi statistik dari Dimensi Religiusitas

Dimensi

N

Nilai Minimum

Nilai Maksimum

Rata-Rata

Standar Deviasi

Intellectual

139

15

28

23.0647

2.80581

Ideology[u1] 

139

26

36

34.6906

2.44608

Public Practice

139

17

28

23.5899

2.83051

Private Practice

139

17

24

21.4173

1.98509

Religious Experience

139

13

20

17.8993

1.88931

 

Pada tabel 4.3. diketahui gambaran statistik dari setiap dimensi dari variabel Religiusitas, nilai rata-rata tertinggi terdapat pada Ideology Dimension (M=34.6906 dan SD=2.44608). Dan nilai rata-rata terendah terdapat pada Religious Experience Dimension (M=17.8993 dan SD=1.88931).

Dari hasil diskusi peneliti dengan salah satu pembina Majelis Taklim terkait penyebab mengapa dimensi ideologi ini menjadi dimensi yang mempunyai nilai rata-rata tertinggi dari Religiuisitas, sumber tersebut mengatakan :

“Dimensi Ideologi merupakan unsur dasar dan utama dalam agama Islam, Inti dimensi ini dalam ajaran Islam adalah Tauhid atau mengesakan dan ketaqwaaan kepada Allah. Agama Islam menyeru manusia agar beriman dan bertaqwa serta mentaati setiap aturan syariat yg telah ditetapkan. Sehingga Dimensi ini berisi pengharapan-pengharapan dimana orang religius berpegang teguh pada pandangan teologis tertentu dan mengakui kebenaran doktrin-doktrin tersebut. Hal ini yang menjadikan mengapa dimensi ideologi adalah hal tertinggi dalam pengukuran Religiusitas.”

Tabel 4.4. Tabel Frekuensi Kategorisasi Religiusitas

 

Pedoman

Skor

Kategori

Frekuensi

Presentase

Religiusitas

X < M – 1SD

X < 68

Rendah

0

0 %

M – 1SD < X < M + 1SD

68 ≤ X < 102

Sedang

4

2.9 %

M + 1SD < X

102 ≤ X

Tinggi

135

97.1 %

 

 

 

Total

139

100 %

 

Pada tabel 4.4. diketahui jika partisipan yang mempunyai skor tinggi dalam Religiusitas  adalah sebanyak 134 partisipan (96.4%), sementara yang mempunyai skor sedang adalah sebanyak 4 partisipan (3.6%), dan tidak ada partisipan yang masuk dalam kategori rendah.

 

 

 

 

4.2.2. Deskripsi Kebersyukuran

Dibawah ini merupakan deskripsi statistik dari Dimensi Kebersyukuran

Tabel 4.5. Tabel Deskripsi Statistik Aspek Kebersyukuran

Aspek

N

Nilai Minimum

Nilai Maksimum

Rata-Rata

Standar Deviasi

Intensity[u2] 

139

4

12

10.4604

1.32570

Frequency

139

3

8

5.9712

0.90042

Span

139

6

12

9.9209

1.26871

Density

139

5

12

10.1079

1.45309

 

            Pada tabel 4.5. diketahui gambaran statistik dari setiap dimensi dari alat ukur   Kebersyukuran, nilai rata-rata tertinggi terdapat pada Intensity Aspect (M=10.4604 dan SD=1.32570). Dan nilai rata-rata terendah terdapat pada Frequency Aspect (M=5.9712 dan SD=0.90042).

            Alasan kenapa Intensity Aspect bisa memiliki nilai rata-rata tertinggi dibandingkan aspek-aspek Kebersyukuran lainnya adalah karena dalam agama Islam, terutama dalam Majelis Taklim selalu ditekankan kepada hambanya untuk selalu bersyukur apapun kondisinya. Mengacu dari QS. Ibrahim (Nabi Ibrahim) – surah 14 ayat 7 [QS. 14:7], dimana Allah memerintahkan kepada hambanya untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya, sebaliknya, Allah SWT akan menghukum hambanya jika hambanya tersebut mengingkari segala nikmat dan karunia yang telah diberikan Allah SWT kepadanya. Dalam Pengajian Majelis Taklim para jamaahnya akan senantiasa diingatkan oleh para ustadz untuk selalu bersyukur apapun kondisinya. Sehingga menurut peneliti hal itulah yang membuat para jamaah Majelis Taklim mempunyai nilai rata-rata tertinggi pada Intensity Aspect dalam Kebersyukuran.

Tabel 4.6. Tabel Frekuensi Kategorisasi Kebersyukuran

 

Pedoman

Skor

Kategori

Frekuensi

Presentase

Kebersyukuran

X < M – 1SD

X < 22

Rendah

0

0 %

M – 1SD < X < M + 1SD

22 ≤ X < 33

Sedang

12

8.6 %

M + 1SD < X

33 ≤ X

Tinggi

127

91.4 %

 

 

 

Total

139

100 %

 

               Pada tabel 4.6. diketahui jika partisipan yang mempunyai skor tinggi dalam Kebersyukurannya  adalah sebanyak 127 partisipan (91.4%), sementara yang mempunyai skor sedang adalah sebanyak 4 partisipan (8.6%), dan tidak ada partisipan yang masuk dalam kategori rendah.

4.3. Hasil Uji Normalitas

Tabel 4.7. Tabel Uji Normalitas Teknik Kolmogorov-Smirnov

 

Unstandardized Residual

Asymp. Sig. (2-tailed)

0.200

 

            Disini peneliti menggunakan teknik kolmogorov-smirov untuk uji normalitas dalam penelitian ini. Data yang mempunyai distribusi normal ialah data yang mempunyai nilai signifikansi di atas 0.05, sebaliknya, data yang tidak terdistribusi normal ialah data yang mempunyai nilai signifikansi di bawah 0.05. Uji normalitas pada penelitian ini mempunyai nilai signifikansi sebesar 0.200, sehingga data-data pada penelitian ini menandakan sudah terdistribusi normal.

4.4. Hasil Uji Hipotesis

Setelah diketahui bahwa data terdistribusi normal, maka selanjutnya peneliti melakukan uji hipotesis. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik uji korelasi pearson product moment. uji korelasi pearson product moment ini biasa digunakan untuk dapat mengetahui tingkat keeratan korelasi antara 2 variabel yang mempunyai skala interval ataupun rasio.

Jika pada penelitian ini didapatkan hasil nilai signifikansi p > 0,05, maka Ha diterima, yang berarti terdapat hubungan signifikan antara Religiusitas dengan Kebersyukuran. Sebaliknya, jika didapatkan hasil nilai signifikansi p < 0,05, maka Ha ditolak, yang berarti tidak terdapat hubungan signifikan antara Religiusitas dengan Kebersyukuran.

 

 

Religiusitas

Kebersyukuran

Religiusitas

Pearson Correlation

1

.532**

 

Sig. (2-tailed)

 

.000

 

N

139

139

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

 

Tabel 4.8. Tabel Uji Korelasi Pearson Correlation

 

Pada penelitian ini diketahui bahwa hasil nilai signifikansi dengan menggunakan teknik pearson correlation berada di level signifikansi 0.000. Maka dikarenakan 0.000 < 0.05, maka Ha diterima, dan diketahui ada korelasi positif yang signifikan pada variabel Religiusitas dengan variabel Kebersyukuran senilai 0.532 atau 53.2 %. Dengan nilai pearson correlation 0.532, maka diketahui hubungan antara variabel Religiusitas dengan variabel Kebersyukuran masuk dalam kategori sedang.

4.5. Matriks Korelasi

            Selanjutnya disini peneliti melakukan uji korelasi pada dimensi Religiusitas dengan Kebersyukuran. Uji korelasi pada aspek Religiusitas dengan Kebersyukuran. Juga hubungan pada setiap dimensi Religiusitas dengan setiap dimensi dari Kebersyukuran pada para jamaah Pengajian Majelis Taklim.

4.5.1. Hubungan Setiap Dimensi Religiusitas dengan Kebersyukuran

Tabel 4.9. Tabel Hubungan Setiap Dimensi Religiusitas dengan Kebersyukuran pada Jamaah Pengajian Majelis Taklim

Variabel

(r) hitung

Sig.

Keterangan

 

 

 

 

Intellectual Dimension

 0.427

0.000

Ada Korelasi

 

 

 

 

Ideology Dimension

 0.324

0.000 

Ada Korelasi 

 

 

 

 

Public Practice Dimension

 0.469

0.000 

Ada Korelasi 

 

 

 

 

Private Practice Dimension

 0.313

0.000 

Ada Korelasi 

 

 

 

 

Religious Experience Dimension

 0.374

0.000 

Ada Korelasi 

Pada tabel 4.9. Untuk Dimensi Religiusitas yang mempunyai korelasi paling tinggi dengan variabel Kebersyukuran adalah Public Practice Dimension. Yang menjadi indikator bahwa semakin tinggi derajat kegiatan-kegiatan ritual keagamaan ataupun pelayanan agama yang dilakukan oleh individu, maka semakin tinggi juga secara keseluruhan tingkat Kebersyukuran dari individu tersebut.

Untuk korelasi pada Public Practice Dimension dengan variabel Kebersyukuran, karena nilai sig. Public Practice Dimension 0.000 < 0.05, maka terdapat hubungan yang signifikan antara Public Practice Dimension dengan Kebersyukuran pada level signifikansi 1%. Selanjutnya dengan nilai pearson correlation 0.469, maka diketahui hubungan antara Public Practice Dimension dengan variabel Kebersyukuran masuk dalam kategori sedang. Hal tersebut sesuai dengan konteks penelitian ini, dimana populasi pada penelitian ini adalah para jamaah Pengajian Majelis Taklim. Sudah tentu para jamaah Majelis Taklim rutin mengikuti Pengajian Majelis Taklim yang kegiatannya selalu dilakukan secara bersama-sama. Para jamaah Majelis Taklim, terutama pria, juga akan berusaha menjaga sholat lima waktu berjamaah di Masjid, karena hal tersebut merupakan sunnah yang disabdakan oleh Rasulullah SAW agar diprioritaskan oleh para umat Muslim (Yansyah, 2020).

Untuk Dimensi Religiusitas yang mempunyai korelasi paling rendah dengan variabel Kebersyukuran adalah Private Practice Dimension. Untuk korelasi pada Private Practice Dimension dengan variabel Kebersyukuran, karena nilai sig. Public Practice Dimension 0.000 < 0.05, maka terdapat hubungan yang signifikan antara Private Practice Dimension dengan Kebersyukuran pada level signifikansi 1%. Selanjutnya dengan nilai pearson correlation 0.313, maka diketahui hubungan antara Private Practice Dimension dengan variabel Kebersyukuran masuk dalam kategori lemah. Meskipun menjadi dimensi yang terlemah dalam hal korelasi pada variabel Religiusitas dalam hubungannya dengan variabel Kebersyukuran, tetap  diketahui bahwa ada hubungan antara semakin tinggi derajat pengabdian hidup untuk kegiatan agama yang dilakukan secara sendirian pada individu, maka semakin tinggi juga tingkat Kebersyukuran dari individu tersebut.

Kesimpulannya, hasil pengolahan data di atas memperlihatkan bahwa hubungan antara setiap dimensi dari Religiusitas dengan Kebersyukuran menunjukan korelasi positif. Dimensi dari Religiusitas yang mempunyai korelasi positif paling tinggi adalah Public Practice Dimension dengan nilai pearson correlation sejumlah 0.469, sementara dimensi dari Religiusitas yang mempunyai korelasi positif paling rendah adalah Private Practice Dimension dengan nilai pearson correlation sejumlah 0.313.

4.5.2. Hubungan[PP3]  Setiap Aspek Kebersyukuran dengan Religiusitas

Tabel 4.10. Tabel Hubungan Setiap Aspek Kebersyukuran dengan Religiusitas pada Jamaah Pengajian Majelis Taklim

Variabel

(r) hitung

Sig.

Keterangan

 

 

 

 

Intensity Aspect

 0.429

0.000

Ada Korelasi

 

 

 

 

Frequency Aspect

 0.047

0.586 

Tidak Ada Korelasi 

 

 

 

 

Span Aspect

 0.307

0.000 

Ada Korelasi 

 

 

 

 

Density Aspect

 0.455

0.000 

Ada Korelasi 

Pada tabel 4.10. Untuk Aspek Kebersyukuran yang mempunyai korelasi paling tinggi dengan variabel Religiusitas adalah Density Aspect. Yang menjadi indikator bahwa semakin banyak individu tersebut merasakan emosi bersyukur atas banyak peran positif orang lain yang telah banyak membantu individu tersebut dalam kehidupannya, maka semakin tinggi juga secara keseluruhan tingkat Religiusitas dari individu tersebut. Hasil korelasi matriks tersebut sesuai dengan konteks penelitian ini dan juga dengan hasil korelasi matriks sebelumnya, dimana Public Practice Dimension mempunyai nilai korelasi paling tinggi dengan variabel Kebersyukuran. Untuk korelasi pada Density Aspect dengan variabel Religuisitas, karena nilai sig. Density Aspect 0.000 < 0.05, maka terdapat hubungan yang signifikan antara Density Aspect dengan Religiusitas pada level signifikansi 1%. Selanjutnya dengan nilai pearson correlation 0.455, maka diketahui hubungan antara Density Aspect dengan variabel Religuisitas masuk dalam kategori sedang.

Sementara ada salah satu aspek dari Kebersyukuran yang sama sekali tidak mempunyai korelasi dan tidak bersignifikansi dengan variabel Religuisitas, yaitu Frequency Aspect. Untuk uji korelasi pada Frequency Aspect dengan variabel Religiusitas, karena nilai sig. Frequency Aspect 0.586 < 0.05, maka tidak terdapat hubungan yang signifikan antara Frequency Aspect dengan variabel Religiusitas.

4.5.2. Hubungan Setiap Dimensi Religiusitas dengan Setiap Dimensi Kebersyukuran

 Tabel 4.11. Tabel Hubungan Setiap Dimensi Religiusitas dengan Setiap Dimensi Kebersyukuran pada Jamaah Pengajian Majelis Taklim

Religiusitas

Kebersyukuran

Intensity

Frequency

Span

Density

(r) hitung

sig.

(r) hitung

sig.

(r) hitung

sig.

(r) hitung

sig.

Intellectual

0.333

0

0.024

0.782

0.211

0.013

0.416

0

Ideology

0.364**

0

0.164

0.054

0.153*

0.072

0.13*

0.128

Public Practice

0.306

0

0.066

0.437

0.245

0.004

0.476**

0

Private Practice

0.213*

0.012

0.054

0.527

0.238

0.005

0.306

0

Religious Experience

0.34

0

0.074

0.386

0.29**

0.001

0.286

0.001 

 

Pada tabel 4.10. Untuk Intensity Aspect dari Kebersyukuran, yang mempunyai korelasi paling tinggi antara Intensity Aspect dengan dimensi dari Religiusitas adalah Ideology Dimension. Yang mempunyai nilai signfikansi 0.000 < 0.05 dan nilai pearson correlation sebesar 0.364. Sementara untuk yang mempunyai korelasi paling rendah antara Intensity Aspect dengan dimensi dari Religiusitas adalah Private Practice Dimension. Yang mempunyai nilai signifikansi 0.012 < 0.05 dan nilai pearson correlation sebesar 0.213.

Selanjutnya untuk Frequency Aspect dari Kebersyukuran, aspek tersebut tidak mempunyai korelasi serta tidak mempunyai signifikansi dengan satupun variabel dari Religiusitas. Dimana hubungannya dengan Intellectual Dimension mempunyai nilai signifikansi 0.782 > 0.05, untuk hubungannya dengan Ideology Dimension mempunyai nilai signifikansi 0.054 > 0.05, untuk hubungannya dengan Public Practice Dimension mempunyai nilai signifikansi 0.437 >  0.05, untuk hubungannya dengan Private Practice Dimension mempunyai nilai signifikansi 0.527 > 0.05, dan terakhir untuk hubungannya dengan Private Practice Dimension mempunyai nilai signifikansi 0.386 > 0.05.

Untuk Span Aspect dari Kebersyukuran, yang mempunyai korelasi paling tinggi antara Span Aspect dengan dimensi dari Religiusitas adalah Religious Experience Dimension. Yang mempunyai nilai signfikansi 0.001 < 0.05 dan nilai pearson correlation sebesar 0.29. Sementara untuk dimensi dari Religiusitas yang sama sekali tidak mempunyai korelasi dan tidak bersignifikansi dengan Span Aspect dari Kebersyukuran ialah Ideology Dimension dengan nilai signifikansi 0.072 > 0.05.

Untuk Density Aspect dari Kebersyukuran, yang mempunyai korelasi paling tinggi antara Density Aspect dengan dimensi dari Religiusitas adalah Public Practice Dimension. Yang mempunyai nilai signfikansi 0.000 < 0.05 dan nilai pearson correlation sebesar 0.476. Sehingga juga menjadi korelasi yang tertinggi jika dibandingkan dengan korelasi-korelasi pada setiap dimensi lainnya. Selanjutnya untuk dimensi dari Religiusitas yang sama sekali tidak mempunyai korelasi dan tidak bersignifikansi dengan Density Aspect dari Kebersyukuran ialah Ideology Dimension dengan nilai signifikansi 0.128 < 0.05.

4.6. Pembahasan

Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui apakah ada hubungannya antara Religiusitas dengan  Kebersyukuran pada jamaah Pengajian Majelis Taklim. Majelis Taklim yang menjadi populasi pada penelitian ini adalah Majelis Taklim Ustadz Kembar yang mempunyai jamaah sejumlah kurang lebih 152 jamaah dewasa.

Dari[PP4]  hasil uji hipotesa diketahui bahwa terdapat hubungan antara Religiusitas dengan Kebersyukuran pada jamaah Pengajian Majelis Taklim, penelitian ini mempunyai nilai korelasi pearson correlation sebesar 0.532 dengan nilai signifikansi senilai 0.000, sehingga tingkat korelasinya masuk dalam kategori sedang. Sehingga dapat diinterpretasikan bahwa individu yang mempunyai pengetahuan agama yang luas terkait dengan agama Islam mempunyai ketertarikan yang kuat atas pengetahuan agamanya untuk menambah khazanah ilmu pengetahuannya, sehingga individu tersebut dapat mengaplikasikan ilmu agama yang didapatkannya dari berbagai sumber dalam kehidupannya sehari-hari.

Dengan mengikuti Pengajian Majelis Taklim, para individu akan senantiasa diingatkan agar selalu bersyukur kepada Allah SWT. Mengetahui bahwa dengan selalu bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya akan semakin menambah hingga berkali-kali lipat nikmat dan karunia dari Allah SWT bagi dirinya untuk kedepannya. Individu dengan Religiusitas tinggi juga akan aktif dalam mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan, seperti mengikuti Pengajian Majelis Taklim, sholat berjamaah lima waktu di masjid, juga saling tolong-menolong antara sesama umat muslim, dengan seringnya melakukan aktifitas secara bersama-sama antara sesama umat muslim, individu tersebut akan menjadi pribadi yang senantiasa selalu merasa bersyukur atas peran positif dari orang lain dalam kehidupannya, memahami bahwa keberhasilan dirinya juga berasal dari jasa-jasa kebaikan orang lain. Mengetahui dan memiliki keyakinan kuat bahwa Allah SWT itu memang benar-benar ada. Individu tersebut akan merasakan atas kehadiran Allah SWT yang senantiasa berada disisinya dan membimbingnya dalam setiap aspek kehidupannya. Sehingga individu tersebut akan senantiasa merasakan perasaan bersyukur dalam sepanjang hidupnya, karena mengetahui sudah ada Allah SWT yang selalu membimbingnya dan menjaganya selama ini, serta telah memenuhi segala kebutuhan-kebutuhannya. Meskipun begitu, peneliti mempunyai asumsi bahwa kondisi pandemi Covid-19 sekarang ini yang menimbulkan banyak kekhawatiran dan kecemasan dari para individu juga mempunyai dampak signifikan terhadap hubungan antara tingkat Religiusitas dengan tingkat Kebersyukuran dari para Jamaah Majelis Taklim, sehingga hasil uji korelasi dari Religiusitas dengan Kebersyukuran pada penelitian ini hanya pada taraf sedang.

Dalam Kraus dkk. (2015) diketahui bahwa orang yang religius cenderung lebih bersyukur. Meskipun Kebersyukuran secara sederhana didefinisikan dalam kamus sebagai '' the state of being grateful '' atau '' thankfullness '' (Merriam-Webster, 2021), Kebersyukuran merupakan konsep yang jauh lebih kompleks dari pendefinisian tersebut. Kraus dkk. (2015) mendefinisikan rasa syukur  sebagai reaksi emosional positif terhadap penerimaan manfaat yang telah diberikan dengan niat baik, baik itu dari orang lain, tuhan, ataupun sumber-sumber kebaikan lainnya.

Emmons dkk (2005, dalam Kraus dkk. 2015) menjelaskan bahwa ada kualitas yang sakral antara religuisitas dengan keterkaitannya pada Kebersyukuran. Ajaran agama dalam Islam menekankan pentingnya tentang Kebersyukuran dan rasa berterima-kasih. Rasa Kebersyukuran terhadap tuhan telah menjadi hal yang sangat umum dalam banyak tradisi keagamaan, yang juga banyak ditemukan dalam kitab-kitab keagamaan. Lebih jauh lagi, Kebersyukuran merupakan  salah satu emosi yang paling sering ditekankan dalam Agama pada diri para penganutnya.

Hasil dari penelitian yang peneliti kerjakan ini juga relevan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Alfathimy (2020) dan Nikmah (2017), dimana pada penelitian tersebut diketahui bahwa ada korelasi positif yang signifikan antara Religiusitas dengan Kebersyukuran, yang berarti semakin tinggi tingkat Religiusitas dari individu, akan semakin tinggi juga tingkat Kebersyukurannya, begitu juga sebaliknya, semakin rendah  tingkat Religiusitas dari individu, semakin rendah juga tingkat Kebersyukurannya. Dalam Aghababei dkk. (2018), juga diketahui bahwa skor tinggi dalam Religiusitas juga erat kaitannya dengan skor tinggi dalam Kebersyukuran. Kebersyukuran memiliki berbagai manfaat fisik[PP5] , emosional, dan sosial. Penelitian menunjukkan bahwa banyak dimensi-dimensi dari Religiusitas yang dapat  meningkatkan perasaan bersyukur (Kraus dkk., 2015). Selain itu pula, rasa bersyukur kepada Tuhan juga dapat berfungsi sebagai mediator efek Religiusitas dalam mengalami Kebersyukuran (Aghababei dkk., 2018).

Dari kajian-kajian teoritis sebelumnya, setelah diketahui hasil bahwa individu dengan tingkat Religiusitas yang tinggi juga akan mempunyai tingkat Kebersyukuran yang tinggi pula, maka individu yang mempunyai tingkat Religiusitas yang tinggi akan berusaha sepenuh hati dalam menjalankan ibadah serta meresapi setiap amal ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT kepadanya untuk dikerjakan sebagai bentuk rasa syukur atas setiap nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepadanya. Tidak terlepas dari rasa bersyukur kepada Allah SWT semata, individu tersebut juga akan sering merasa bersyukur atas setiap hal baik yang diberikan oleh orang lain kepadanya, entah itu berwujud fisik (misalnya, pemberian hadiah) ataupun berbentuk abstrak (misalnya, pujian) Semakin individu tersebut memiliki pengetahuan agama yang luas, maka akan semakin tinggi juga tingkat Kebersyukuran yang dimiliki oleh individu, dikarenakan individu tersebut mengetahui bahwa salah satu perintah Allah SWT kepadanya adalah untuk menjadi pribadi yang senantiasa selalu bersyukur kepada Allah SWT, baik dalam kondisi lapang maupun kondisi sempit. Dengan semakin sering individu tersebut melakukan ibadah dengan perasaan tulus ikhlas kepada Allah SWT dengan niat hanya untuk mencari ridhonya semata, serta tidak memikirkan hal-hal lain yang dapat membuat kondisi emosi pikirannya menjadi tidak bersyukur atas segala nikmat yang telah diterima individu tersebut dalam kehidupannya selama ini, maka secara otomatis individu tersebut akan senantiasa merasakan perasaan Kebersyukuran pada dirinya sepanjang hidupnya. Kehidupannya akan selalu dipenuhi oleh emosi bersyukur dalam dirinya.

Untuk korelasi tertinggi antara dimensi Religiusitas dengan Kebersyukuran, yang mempunyai nilai korelasi tertinggi dari dimensi Religiusitas adalah Public Practice Dimension. Hubungan antara Public Practice Dimension dengan Kebersyukuran mempunyai nilai pearson correlation senilai 0.469 dengan nilai signifikansi 0.000 < 0.05, sehingga diketahui adanya korelasi positif yang signifikan antara Public Practice Dimension dengan Kebersyukuran. Yang berarti semakin sering individu mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilakukan secara bersama-sama dengan orang lain ataupun masyarakat, seperti rutin melakukan ibadah sholat lima waktu di masjid ataupun musholah, rutin mengikuti Pengajian Majelis Taklim, serta kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya yang dilakukan secara bersama-sama. Maka semakin tinggi pula tingkat Kebersyukuran yang dimiliki oleh individu tersebut.

Sementara untuk korelasi terendah antara dimensi Religiusitas dengan Kebersyukuran adalah Private Practice Dimension. Untuk hubungan antara Private Practice Dimension dengan Kebersyukuran mempunyai nilai pearson correlation senilai 0.313 dengan nilai signifikansi 0.000 < 0.05, sehingga diketahui adanya korelasi positif yang signifikan antara Private Practice Dimension dengan Kebersyukuran. Yang berarti semakin individu sering dalam menjalankan ritual-ritual terkait keagamaan yang dilakukannya secara individual, seperti sering melakukan sholat tahajud, sering beristighfar kepada Allah SWT, sering membaca Al-Quran, rutin melakukan sholat dhuha, serta ritual-ritual keagamaan lainnya yang rutin dilakukannya secara individual dalam rangka mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Maka semakin tinggi pula tingkat Kebersyukuran yang dimiliki oleh individu tersebut.

Dari pengkajian diatas, diketahui bahwa dimensi Religiusitas yang mempunyai korelasi tertinggi dengan Kebersyukuran adalah Public Practice Dimension, sehingga dapat disimpulkan bahwa para individu yang rutin mengikuti Pengajian Majelis Taklim, dengan semakin rutinnya individu aktif mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilakukan secara bersama-sama, seperti sering melakukan sholat berjamaah di masjid ataupun musholah, rutin dalam mengikuti pengajian-Pengajian Majelis Taklim yang diselenggarakan, menjaga silaturahmi sesama umat muslim, serta saling membantu satu sama lain jika ada saudara/saudari-nya sesama umat muslim yang sedang membutuhkan pertolongan, maka akan semakin tinggi juga tingkat Kebersyukurannya. Sementara untuk yang mempunyai nilai korelasi terendah dengan variabel Kebersyukuran adalah Private Practice Dimension, yang dimana hasil tersebut sesuai dengan asumsi awal peneliti pada penelitian ini. Dimana para jamaah Majelis Taklim akan lebih mengutamakan kegiatan-kegiatan positif terkait keagamaan yang dilakukan secara bersama-sama dibandingkan dengan kegiatan-kegiatan keagamaan yang bersifat individual.

Untuk korelasi tertinggi antara aspek Kebersyukuran dengan Religiusitas, yang mempunyai nilai korelasi tertinggi adalah Density Aspect. Hubungan antara Density Aspect dengan Religiusitas mempunyai nilai pearson correlation senilai 0.455 dengan nilai signifikansi 0.000 < 0.05. Yang menandakan bahwa semakin individu merasakan perasaan bersyukur atas bantuan ataupun hal positif lainnya yang didapatkannya dari orang lain dalam kehidupannya, semakin tinggi pula tingkat Religiusitasnya, seperti perasaan bersyukurnya karena memiliki orang-orang baik di sekitarnya, perasaan bersyukur karena merasa kesuksesan ataupun keberhasilannya saat ini adalah karena bantuan positif orang lain, seperti dari keluarganya atau sahabatnya. Semakin tinggi perasaan bersyukur individu tersebut atas jasa-jasa kebaikan orang lain terhadap dirinya, akan semakin tinggi pula tingkat Religiusitas individu tersebut secara keseluruhan. Individu tersebut akan semakin tinggi dalam hal terkait keyakinan dan pikiran religiusnya dalam melihat kehidupan ini, sehingga akan mempunyai pengaruh terhadap cara pandang dan perilakunya dalam kehidupannya sehari-hari.

Selanjutnya ada salah satu aspek Kebersyukuran yang tidak mempunyai korelasi dan tidak bersignifikansi dengan variabel Religiusitas, aspek tersebut adalah Frequency Aspect, yang mempunyai nilai signifikansi sebesar 0.586 > 0.05. Sehingga menandakan bahwa tidak ada hubungannya antara seberapa seringnya individu tersebut merasakan perasaan bersyukur dalam setiap waktu pada setiap harinya, seperti berterima-kasih setiap waktunya kepada Allah SWT, dengan semakin tinggi tingkat Religiusitasnya.

Hasil temuan ini menjadi menarik karena peneliti sebelumnya memiliki asumsi awal bahwa semakin tinggi tingkat Religiusitas dari individu, akan semakin mudah individu tersebut merasa bersyukur dalam kehidupannya sehari-hari. Bisa jadi para jamaah Majelis Taklim sekarang ini tidak bisa untuk terus-menerus merasakan perasaan bersyukur dalam kehidupannya sehari-hari saat ini  dikarenakan Indonesia secara merata sedang mengalami pandemi Covid-19 yang menyebabkan banyak orang merasakan kecemasan dari semua aspek, seperti mencemaskan terkait finansialnya, mengkhawatirkan kesehatannya, dan potensi-potensi masalah serta hal-hal negatif lainnya yang mungkin dapat terjadi pada dirinya ataupun keluarganya akibat situasi pandemi Covid-19 yang belum ada titik terang untuk saat ini kapan akan berakhirnya. Sehingga pandemi Covid-19 saat ini mengakibatkan individu yang aktif mengikuti Pengajian Majelis Taklim sekalipun, yang dalam penelitian diketahui bahwa mereka mempunyai tingkat Religiusitas tinggi secara keseluruhan, juga diketahui mempunyai pikiran dan keyakinan religius yang tinggi dalam kehidupannya sehari-hari, serta memenuhi kewajiban-kewajiban dan nilai-nilai agamanya, tetap tidak bisa untuk merasakan perasaan bersyukur terus-menerus setiap waktunya dalam sepanjang harinya.

Selanjutnya untuk hasil korelasi yang tertinggi antara setiap dimensi Religiusitas dengan setiap aspek dari Kebersyukuran adalah korelasi antara Public Practice Dimension dengan Density Aspect. Dengan nilai signifikansi 0.000 < 0.05 dan hasil uji pearson correlation senilai 0.476. Public Practice Dimension menjadi dimensi yang mempunyai tingkat hubungan tertinggi dengan Density Aspect dari Kebersyukuran. sehingga disimpulkan bahwa individu yang aktif mengikuti Pengajian Majelis Taklim, rutin mengikuti sholat berjamaah lima waktu di masjid ataupun musholah, aktif dalam mengikuti kegiatan-kegiatan terkait keagamaan yang dilakukan secara bersama-sama. Akan paling berkorelasi positif dengan perasaan bersyukur atas pertolongan orang lain dalam kehidupannya selama ini yang telah mempunyai banyak peran positif terhadap dirinya, dibandingkan dengan korelasi lainnya antara setiap dimensi Religiusitas dengan setiap aspek Kebersyukuran.

Selanjutnya untuk aspek dari Kebersyukuran yang tidak mempunyai signifikansi sama sekali dengan Religiusitas adalah Frequency Aspect, diketahui hasil nilai pearson correlation pada Intellectual Dimension senilai 0.024 dengan nilai signifikansi 0.782 > 0.05, hasil nilai pearson correlation pada Ideology Dimension senilai 0.164 dengan nilai signifikansi 0.054 > 0.05, hasil nilai pearson correlation pada Public Practice Dimension senilai 0.066 dengan nilai signifikansi 0.437 > 0.05, hasil nilai pearson correlation pada Private Practice Dimension senilai -0.054 dengan nilai signifikansi 0.527 > 0.05, hasil nilai pearson correlation pada Religious Experience Dimension senilai -0.074 dengan nilai signifikansi 0.386 > 0.05. Ternyata pada semua dimensi Religiusitas tersebut, semuanya tidak mempunyai korelasi dan tidak bersignifikansi dengan Frequency Aspect dari kebersyukuran. Yang menandakan bahwa meski seseorang memiliki tingkat Religiusitas yang tinggi dalam Intellectual Dimension, Ideology Dimension, Public Practice Dimension, Private Practice Dimension, dan Religious Experience Dimension. Dimensi-dimensi Religiusitas tersebut tidak ada keterkaitannya dengan seberapa sering individu tersebut merasakan perasaan bersyukur yang dialaminya berkali-kali dalam setiap harinya. Selanjutnya untuk dimensi dari Religiusitas yang tidak mempunyai signifikansi dengan tiga aspek dari Kebersyukuran adalah Ideology Dimension, untuk korelasinya dengan Frequency Aspect, Span Aspect, dan Density Aspect.  Diketahui hasil nilai pearson correlation antara Ideology Dimension dengan Frequency Aspect senilai 0.164 dengan nilai signifikansi 0.054 > 0.05, hasil nilai pearson correlation antara Ideology Dimension dengan Span Aspect senilai 0.153 dengan nilai signifikansi 0.072 > 0.05, hasil nilai pearson correlation antara Ideology Dimension dengan Density Aspect senilai 0.13 dengan nilai signifikansi 0.128 > 0.05.

Peneliti mengasumsikan hal ini bisa terjadi dikarenakan kondisi pandemi Covid-19 yang masih belum ada kejelasan kapan akan berakhirnya, sehingga tidak peduli seberapa besar tingkat keyakinan dari individu terhadap Allah SWT, hal tersebut tidak mempunyai korelasi dengan seberapa sering individu mengalami perasaan bersyukur pada setiap waktunya dalam setiap harinya, perasaan bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya dalam sepanjang hidupnya, serta perasaan bersyukur atas berbagai kebaikan dan hal positif yang telah diterimanya dari orang lain.

Seluruh dimensi pada Religiusitas, yakni; Intellectual Dimension, Ideology Dimension, Public Practice Dimension, Private Practice Dimension, dan Religious Experience Dimension, mempunyai korelasi yang positif dan bersignifikansi dengan Kebersyukuran. Tetapi jika dalam korelasi pada setiap dimensi Religiusitas dengan setiap dimensi Kebersyukuran, untuk Ideology Dimension dari Religiusitas, hanya bersignifikansi & berkorelasi positif dengan Intensity Aspect dan tidak mempunyai korelasi dan tidak bersignifikansi dengan Frequency Aspect, Span Aspect, dan Density Aspect dari Kebersyukuran. Selanjutnya untuk Frequency Aspect dari Kebersyukuran, salah satu aspek dari Kebersyukuran tersebut sama sekali tidak mempunyai korelasi dan tidak bersignifikansi dengan seluruh dimensi dari Religiusitas.

            Kesimpulannya, untuk Individu yang aktif Mengikuti Pengajian Majelis Taklim, jika individu tersebut mempunyai derajat Religiusitas yang tinggi, maka akan semakin tinggi pula derajat Kebersyukurannya. Adanya hubungan antara Religiusitas dengan Kebersyukuran pada para jamaah Pengajian Majelis Taklim menandakan bahwa dengan seiring rutinnya individu mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan yang dapat memenuhi kebutuhan rohani dan kebutuhan atas ilmu pengetahuan terkait ajaran agama Islam, yang sering juga diajarkan bahwa sebagai umat Islam harus sering mensyukuri atas berbagai nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya. Maka individu tersebut akan semakin merasakan perasaan bersyukur pada dirinya, bersyukur atas kehidupannya selama ini, bersyukur atas hal-hal baik yang telah diberikan oleh orang lain kepadanya, dan bersyukur atas berbagai nikmat karunia yang telah didapatkannya dari Allah SWT.


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan


 [u1]dijelaskan kenapa Ideology bisa tertinggi, bisa dari observasi atau wawancara

 [u2]dijelaskan kenapa Kebersyukuran bisa tertinggi, bisa dari observasi atau wawancara

 [PP3]Habis 4.5.1 kok 4.5.3?

 [PP4]Penelitian ini bertujuan untuk…

Penelitian ini dilakukan pada Majelis Taklim sebanyak.

 

Dari hasil uji hipotesa diperoleh…

 

 [PP5]Kaitkan dengan teori/penelitian terdahulu

Hanya skor2 yang ekstrim tinggi/rendah 

Komentar